Tamtama Terbaik AD Australia Tahun 2014 Ikuti Program Sejarah Perang Dunia Kedua, Kunjungi Kalimantan Tweet

01 Jonathan Church Award 2015

Kalimantan Timur dan Utara. Sejumlah tempat bersejarah dalam Perang Dunia Kedua yang terletak di Balikpapan dan Tarakan menjadi fokus kunjungan dari delegasi kecil Angkatan Darat Australia pada 19 – 23 April 2015.  Kunjungan tersebut dianugerahi oleh KASAD Australia kepada dua tamtama dalam rangka ‘Jonathan Church Ethical Soldier Award 2015’, sebuah penghargaan yang diberikan kepada tamtama dan perwira muda yang terpilih berkat perilaku pribadinya segi keetisan yang dinilai sangat bertauladan.

Dari sembilan penerima penghargaan tersebut, dua tamtama berpangkat korpral diberangkatkan ke Balikpapan dan Tarakan untuk mengunjungi lokasi pendaratan pasukan Australia pada Perang Dunia Kedua.  Di Balikpapan (Operation Oboe 2) dan Tarakan (Operation Oboe 1) pasukan Australia melakukan operasi perang secara besar-besaran untuk melawan pasukan Jepang yang sudah lama menguasai kota-kota tersebut dan daerah sekelilingnya.

02 Jonathan Church Award 2015

Pada hari pertama di Balikpapan, kedua tamtama bersama perwira pendamping menerima penjelasan singkat dari seorang ahli sejarah Perang Dunia Kedua, Dr. Garth Pratten, sambil mempelajari peta tua yang digunakan pada tahun 1945-an.  Usai memahami titik-titik lapangan perang yang signifikan, mereka turun ke lapangan di mana pasukan Australia mendarat sekitar 70 tahun yang lalu. 

03 Jonathan Church Award 2015

Pada hari kedua, delegasi melanjutkan kunjungannya ke beberapa lokasi bersejarah termasuk ‘Bukit 87’ (juga disebut Tank Hill) yang terletak di dalam lapangan PT Chevron Indonesia.  Di atas bukit tersebut terdapat bekas tank ‘Matilda’ yang bagian-bagian tertentu telah dirakit kembali dijadikan semacam ‘tugu Tentara Australia’.  Sebagaimana dikenal masyarakat umum di sana, lokasi PT Chevron dan tugu tersebut digunakan untuk peringatan Hari Anzac setiap tahunnya.

Lalu pada tanggal 21 April, delegasi berlanjut mengunjungi tempat bersejarah Perang Dunia Kedua di Tarakan.  Selain melakukan kunjungan, mereka meninjau lokasi meriam anti-kapal Jepang yang masih terletak di samping pantai serta sejumlah bunker senjata mesin berlapis baja yang terletak di hutan disamping bandara.  Bunker tersebut dahulu digunakan oleh pasukan Jepang untuk mempertahankan bandara dari pasukan para Sekutu.  Menjelang sore, delegasi memasuki daerah hutan untuk mencoba menemukan puing-puing perang yang lain.  Dengan menggunakan peta tua dan keterampilan militer dasar, mereka berhasil menemukan dua situs signifikan yang telah tercatat dalam buku-buku sejarah Perang Dunia Kedua.

Kedua tamtama tersebut terlihat sangat senang dan bangga dengan penghargaan Jonathan Church Award tsb, yang memberikannya kesempatan untuk berkunjung ke lokasi bersejarah dimana ribuan pasukan Australia pernah terlibat dalam perang. Sempat terlihat beberapa kali juga mereka berdua berhenti dan menyepi, membayangkan betapa sulitnya tugas para pendahulunya dalam melawan pasukan Jepang di sana, maupun alangkah kerasnya berperang di medan tropis dan berbukit-bukit itu sehingga telah menelan 500 jiwa pasukan Australia pada bulan Mei s/d Juli 1945.